Peresean Khas Lombok

0 comments

PERESEAN dalam budaya lombok sering kita temukan, lombok memiliki keragaman budaya dan unsur tradisi yang masih hidup dikalangan masyarakat.Tradisi prisian ini bahkan sering kita tonton, dan juga sebagai ajang tontonan bagi kaum masyarakat lombok.orang yang biasanya ikut andil dalam lomba prisian ini serupa orang dewasa yang memiliki mental dan fisik yang kuat.

PERESEAN adalah olah raga tradisional yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak Lombok. PERESEAN artinya tameng (alat pelindung atau penangkis pukulan) lawan, alat pemukul tersebut disebut Cemeti (Penjalin) yang biasanya terbuat dari rotan sedangkan alat penangkis disebut Ende yang terbuat dari kulit sapi.


PERESEAN dahulu kala biasanya dilakukan oleh masyarakat Lombok (suku Sasak) yaitu olah raga saling pukul dengan rotan yang diselenggarakan pada musim kemarau yang bertujuan untuk meminta hujan pada sang pencipta. Para pemain yang bertanding disebut Pepadu sedangkan sistem pertandingan dipimpin oleh seorang wasit yang disebut Pekembar dan disamping pekembar dikenal juga tukang adu disebut Pengadok.

Dalam PERESEAN, pertandingan akan langsung dihentikan jika salah satu Pepadu yang pada saat bertanding mengeluarkan darah ( Bocor) akibat pukulan musuh. Pepadu yang menang maupun yang kalah tetap diberi hadiah yang disebut PERIS, dalam PERESEAN juga dikenal sportifitas yang tinggi, kalah maupun menang tetap saudara artinya tidak dilanjutkan dendam diluar arena.

PERESEAN biasanya diiringi dengan musik yang disebut Gendang (Gending) Perisean, alat-alat musiknya terdiri dua buah Gendang, satu buah Petuk, satu set Rencek, satu buah Gong dan satu buah Suling sebagai penghalus.
Jenis-jenis Gending Perisean dibagi 3 (tiga) macam :

1. Gending Rangsang disebut Gending Ngadokang yaitu gending yang dimainkan pada saat Pekembar dengan dibantu Pengadok mencari Pepadu dan lawan tandingnya yang akan bertanding (bertujuan mengadu Pepadu yang satu dengan yang lain).

2. Gending Mayuang yaitu gending yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa telah ada Dua Pepadu yang siap dan sama-sama berani untuk melakukan PERESEAN / setuju.

3. Gending Beradu yaitu gending yang bertujuan untuk membangkitkan semangan Pepadu maupun para penonton dan dimainkan selama pertandingan berlangsung ronde demi ronde
Busana PERESEAN
1. Menggunakan sapuk (Ikat Kepala ) dari kain (batik)
2. Menggunakan kain (kereng leang).
3. Menggunakan sabuk dari kain yang dilingkarkan dipinggang / bebet (biasanya dalam bebet di selipkan ajimat atau guna-guna yang disebut juga Bebadong).
Sumber : jasmansyah76.wordpress.com

Sponsored By : http://telkomflexi.com/

Adat Perkawinan Orang Sumbawa

1 comments

Prosesi Pernikahan Tau Samawa atau masyarakat Sumbawa sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan masyarakat lain di Indonsia. Namun tentu adat istiadat yang menyertai prosesi itu sangat berbeda dan punya keunikan tersendiri.
Dahulu sepasang calon pengantin tidak pernah saling mengenal satu sama lain dan jodoh mereka diperoleh dari pemberian atau keinginan orang tua. Cara ini dikenal dengan sebutan “ Samulung “ atau dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing. Sebelum terjadi kecocokan atau kesepakatan antara kedua orang tua, pihak laki-laki akan melakukan penjajakan terhadap si gadis, mungkin dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain.
Prosesi ini dikenal dengan “ Bajajak “. Ketika dipastikan si gadis tidak di Samulung-kan oleh orang tuanya dengan pria lain, maka orang tua si pria akan datang menemui orang tua si gadis menyampaikan keinginan nya untuk menikahkan putranya. Cara ini dikenal dengan istilah “ Olo Leng “ sekaligus mengikat kedua anak-anak mereka agar tidak dijodohkan dengan orang lain.
“ Olo Leng “ ini merupakan pra meminang dari orang tua si pria. Baru setelah ada kesiapan terutama materi atau biasanya sesudah panen, orang tua si laki-laki akan mengutus orang lain untuk secara resmi melamar si gadis atau yang dikenal dengan “ Bakatoan “. Ketika lamaran itu diterima maka biasanya diteruskan atau selang beberapa hari dengan “ Basaputis “ yakni memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan rencana pernikahan kedua putra-putri mereka. Dalam “ Basaputis “ inilah sering terjadi tawar menawar antara kedua belah pihak bahkan bisa berakibat batalnya rencana pernikahan itu ketika orang tua dan keluarga si gadis meminta atau “ Mako “ sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh orang tua si laki.

“Pe-Mako“ atau permintaan orang tua si gadis meliputi “Pipis Belanya“ (sejumlah uang) kemudian “ Isi Peti “ (berupa emas perhiasan) “ Isi Lemari (pakaian si gadis,mulai dari sandal hingga sanggul rambut) dan “ Soan Lemar “(berupa beras,gula,minyak,kayu bakar dll termasuk seekor kerbau atau sapi)." Semua ini akan dipergunakan untuk menopang prosesi perkawinan yang dilaksanakan ditempat si gadis.
Setelah semua beres, maka ditentukanlah hari baik untuk memulai prosesi ini. Diawali dengan “Barodak“ calon pengantin atau bersamaan dilakukan dengan upacara “Nyorong“.
“Barodak“ kira-kira sama dengan luluran di Jawa. Di Sumbawa mengunakan bedak tradisional yang dibuat khusus oleh orang khusus pula dan biasanya seorang wanita. Orang inilah yang nantinya akan menjadi “ Ina Odak “ atau ibu asuh calon pengantin wanita selama prosesi perkawinan ini.

Sementara “Norong“ ; adalah sebuah upacara adat yang melibatkan banyak orang dari pihak laki-laki. Apa yang sudah diputuskan dalam acara “Basaputis” sebelumnya akan diantarkan ke pihak wanita melalui upacara Adat Nyorong ini. Disinilah bahasa-bahasa puitik Tau Samawa yang dikenal dengan sebutan “ Lawas “ di “ Sier ) atau dilantunkan oleh kedua belah pihak. Rombongan dari pihak laki-laki tidak akan diizinkan masuk ketempat upacara apabila tidak bisa melantunkan bait-bait Lawas. Pintu masuk yang disebut dengan “ Lawang Rare “ pun ditutup.

Lawas Pihak Pria :
Kamu Pesan Kami Datang ( Kalian Undang Kami Datang )
Lawang Mu Purat Ke Barit ( Mengapa Pintu Ditutup )
Ya Mu Ano Ke Nyonde Ta. ( Panas Lah Kami Semua )

Kira-kira itulah bait-bait awal Lawas pihak laki-laki yang tentu saja diterima dengan lawas oleh pihak wanita.

Malema Sempu Malema ( Mari Kerabat Marilah )
Sapuan Mo Le Ku Tari ( Sudah Lama Kami Menunggu )
Tutu Lampa Ka Leng Tutu ( Benar Juga Kata Terucap )

Itulah serangkaian acara pada upacara Nyorong dan dilanjutkan dengan serah terima secara simbolis semua barang-barang bawaan pihak laki-laki berupa Pipis Belanya,Isi Peti,Isi Lemari dan Soan Lemari.
Selain itu ada simbol-simbol yang mengandung falsafah dari upacara Nyorong ini. Pihak laki-laki biasa nya menghiasi kendaraan mereka dengan beberapa batang Tebu yang melambangkan keperkasaan seorang pria. Sedangkan dirumah calon pengantin wanita biasanya akan terlihat sebatang pohon pisang, symbol sebuah nasehat ;

"Mara Punti Gama Untung
Den Kuning No Tenri Tana
Mate Bakolar Ke Lolo"

Lawas diatas menontohkan pohon pisang. Walau dahannya menguning,takkan jatuh ke tanah. Sampai mati pun tetap bersama.

sumber : sumbawa-beritaphoto.blogspot.com
Sponsored By : http://telkomflexi.com/

Songkok Samawa atau Songkok Bone

0 comments

Menarik untuk dikaji tentang keberadaan perlengkapan atau pakaian adat Sumbawa yang selama ini sudah menjadi pakaian resmi dalam upacara-upacara adat Sumbawa. Adalah Songko atau kopiah ; yang dipakai selama ini ternyata mengundang pertanyaan, apakah betul Songko atau kopiah itu bagian dari pakaian adat Tau Samawa. Pertanyaan ini sangat wajar karena banyak alasan antara lain, bahwa hingga saat ini tidak seorang pun dari Tau Samawa yang mengetahui bahwa Songko itu dibuat atau pernah dibuat oleh orang Sumbawa.

Di Sumbawa orang menyebutnya dengan SONGKO BONE atau ada pula yang menyebutmya dengan KILO-KILO. Disebut Songko Bone karena awalnya Songko itu didatangkan atau dibawa dari Kerajaan Bone Sulawesi. Sekarang Kilo-kilo itu bisa dipesan bebas di Makassar atau didaerah lain di Sulawesi. Tapi mengapa Songko Bone itu lalu menjadi Songko Samawa atau menjadi kelengkapan pakaian adat Tau Samawa ??

Masarakat Sumbawa dahulu nya hanya mengenal SAPU dan CIPO sebagai penutup kepala. Sapu untuk laki-laki dan Cipo untuk wanita. Sapu maupun Cipo ini hingga sekarang masih dipergunakan sebagian besar masarakat Sumbawa pada upacara-upacara adat. Namun ketika pengaruh Raja Bone Sulawesi mulai merambah kehidupan masarakat Sumbawa khususnya kalangan Istana di Sumbawa pada masa lalu, sejumlah kelengkapan adat termasuk pakaian adat Bone pun ikut mewarnai pakaian adat Tau Samawa. Dari catatan yang ada bahwa saat itu Songko Bone ini hanya boleh dipakai oleh pembesar negeri sedangkan orang kebanyakan tetap menggunakan Sapu maupun Cipo ini. Sapu bagi laki-laki harus lengkap dengan SALEMPANG dan KRE ALANG ( Kain Tenunan Khas Samawa ) yang disarungkan dan dilipat hingga sebatas lutut dan menggunakan kemeja dan celana panjang. Sedangkan Cipo bagi wanita, lengkap dengan LAMUNG PENE ( baju adat Samawa ). Untuk wanita-wanita dikalangan istana penutup kepala ini dikenal dengan sebutan CIPO CINDE.

Untuk pembesar kerajaan, perbedaannya selain pada Songko Bone juga baju yang dipakai berlainan dengan orang kebanyakan. Menggunakan celana panjang dan baju berwarna hitam ditambah KRE ALANG yang disarungkan dan dilipat sebatas lutut. Model bajunya bukan kemeja, melainkan baju semi jas dengan leher sanghai mirip dengan pembesar Belanda lengkap dengan rantai jam yang menggantung di kantong baju bagian atas. Ini mungkin pengaruh Belanda yang juga sempat hadir dalam kancah kehidupan Tau Samawa,khususnya kalangan kerajaan Sumbawa. Untuk diketahui bahwa model baju dengan leher sanghai plus kelengkapannya ini, juga dipakai oleh masarakat Betawi dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Lalu sekarang, dalam upaya kita melestarikan budaya desa darat ini, apakah kita juga akan mempertahakan perbedaan ini, bahwa ada pakaian adat untuk pembesar negeri dan ada pakaian adat untuk orang kebanyakan. Kalau kita tetap mempertahakan Kilo-Kilo ini sebagai bagian dari kelengkapan pakaian adat Samawa, maka sangat lucu ketika Songko itu sendiri tidak dibuat oleh orang Sumbawa dan untuk memilikinya sudah pasti kita akan memesannya dimana Songko itu diproduksi.

Atau kita akan menyama-ratakan pakaian adat Tau Samawa ini dengan merubah penutup kepala dari Songko Bone atau Kilo-Kilo ini menjadi hanya menggunakan SAPU dan CIPO ??. Karena untuk memilikinya sangat mudah. Walau sudah jarang, tetapi masih banyak orang Sumbawa yang mampu membuatnya. 

Sumber : sumbawa-beritaphoto.blogspot.com

Jajan Tujak Khas Lombok

0 comments



Poteng atau sejenis tape menjadi salah satu jenis jajan kue dan makanan ringan warga masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) disaat Hari Raya Idulfitri.

Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang selalu menyajikan ketupat atau makanan sejenisnya di saat Idul Fitri di Pulau Lombok ketupat akan di sediakan pada saat Lebaran Ketopat yang hari nya akan di rayakan 1 minggu setelah Idul Fitri..

Poteng merupakan jajan khas Lombok yang selalu ditanyakan para tamu ketika melakukan kunjungan silaturrahim setelah salat Idulfitri, untuk itu tidaklah heran jika berkunjung kerumah tetangga jajan poteng selalu tersedia.

Cara membuat poteng, ketan yang akan dibuat poteng terlebih dahulu dibersihkan kemduan dicuci dan dimasak. Setelah dimasak diberikan pewarna hijau menggunakan daun sager sejenis sayur.
Setelah diberikan pewarna ketan dianginkan hingga dingin kemudian diberikan ragi tape atau bubuk pemanis yang akan membuat poteng menjadi lezat dan enak.

Dikatakan, ibu-ibu yang membuat poteng harus dalam keadaan suci artinya tidak dalam kedatangan bulan atau haid, sebab jika ibu-ibu yang membuat poteng dalam keadaan datang bulan potengnya bisa rusak. Sebaiknya pembuatan poteng khususnya ketika akan menaburkan bubuk tape pada ketan dilakukan setelah selesai salat sehingga ibu-ibu masih dalam keadaan suci bersih atau berwudhu.

"Jika poteng dibuat dengan cara demikian Insya Allah dijamin potengnya akan manis dan lembut, poteng akan lebih manis dan airnya semakin banyak jika yang membuat itu adalah ibu-ibu atau gadis yang 'jabut' atau tumbuh bulu ditangan atau tangannya berbulu," katanya.
Selain jajan poteng dibuat juga jajan sagon, tarek dan keciprut sementara tamu yang berkunjung lebih senang mencicipi jajan tradisional ketimbang jajan-jajan yang dibeli dari toko.

Sumber : Pulau Lombok @ facebook.

Sponsored By : http://telkomflexi.com/

Pelecing Khas Lombok.

0 comments

Pelecing Kangkung adalah makanan khas Lombok yang sangat sederhana dalam proses pembuatannya, tapi masalah rasa jangan di tanya. Plecing kangkung lombok bisa dibilang komplit selain pelcing kangkungnya yang menjadi menu utama, biji kacang tanah yang di goreng, sate pusut,  serta sambal yang tak kalah pedasnya... Plecing kangkung bisa di makan pada waktu santai biasanya yang paling enak itu waktu siang (makan siang) hmmm dengan sambalnya khas membuat lidah ikut bergoyang heheehe.. Adapun Bahan dan cara pembuatannya adalah

BAHAN:
2 ikat kangkung siangi, potong serasi
250 gr taoge
100 gr kacang tanah, goreng

SAMBAL PLECING:
10 siung bawang merah
5 siung bawang putih
5 bh cabai rawit merah
2 bh tomat, belah empat
1 sdt gula merah
1 sdt garam
penyedap masakan bila suka

 CARA MEMBUAT:
# Rebus kangkung hingga matang. Jaga warnanya agar tetap hijau segar. Sementara taoge cukup direndam dengan air panas. Tiriskan.
# Sambal Plecing: tumis bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit hingga harum baunya. Masukkan tomat dan gula merah. Aduk-aduk hingga tomat layu. Matikan api. Haluskan bumbu dan beri garam secukupnya.
# Penyajian: Siapkan piring, letakkan kangkung dan taoge secukupnya. Taburi dengan kacang tanah. Sajikan bersama Sambal Plecing-nya.

TIPS & TRIK:
# Agar kangkung tetap hijau, air perebusnya diberi sedikit garam. Matikan api bila air sudah mendidih beberapa saat. Tiriskan kangkung dan kucurkan di bawah air dingin mengalir agar proses pematangan berhenti.
 

Pulau Moyo, Pulau Kecil Nan Indah.

0 comments

Meskipun kecil, pulau yang sepi namun memiliki kekayaan alam yang luar biasa ini, berhasil memikat beberapa orang "besar" sekaliber Lady Diana dan Mick Jagger untuk berlibur. Pulau Moyo, sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah utara Pulau Sumbawa, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Melihat keindahan pantai, laut dan alamnya, memang menawarkan ketenangan bagi penikmat keindahan alam bebas dan bawah laut.
Untuk mencapai Pulau Moyo sangatlah mudah. Perjalanan dengan mobil dapat ditempuh dari Sumbawa Besar ke Ai Bari, kampung pesisir yang terletak sekitar 20 km Utara Sumbawa Besar. Atau bila tidak ingin repot, Hotel Tambora dan Kencana Beach Hotel di Sumbawa Besar, bisa mengatur perjalanan menuju pulau ini. Ai Bari yang dalam bahasa Samawa berarti air asin, merupakan kampung nelayan yang miskin fasilitas, namun dari orang Samawa, Bajo dan Bugis yang menghuni daerah ini, sangat ramah.

 Gambar : Pulau Moyo 1

Perjalanan dari Ai Bari ke Pulau Moyo dapat ditempuh selama lebih kurang 15 menit dengan speedboat, atau menggunakan kapal ketinting. Salah seorang nelayan yang selalu menyediakan transportasi ini adalah Pak Lahi yang sudah terbiasa menerima tamu asing, bahkan sering ditulis dalam berbagai buku panduan wisata!

Pulau Moyo memiliki variasi ketinggian dari 0-648 m di atas permukaan laut. Sebagai penanda masih lestarinya pulau seluas kurang lebih 30.000 hektar ini, ratusan kupu-kupu akan terlihat dari balik semak belukar, pepohonan atau di tengah padang savana. Pulau ini juga dihuni 21 jenis kelelawar, burung, macaque, babi liar, rusa dan ular. Dengan kondisi alam yang masih sangat alami, tidak disarankan memasuki pulau ini tanpa pemandu. Karena ada kemungkinan bisa tersesat. "Namun anehnya, setiap kali ada yang tersesat, pasti tetap menemukan jalan ke luar sendiri. Entah "digiring" oleh burung atau kupu-kupu," ujar Pak Maman, salah seorang pemandu di sini. Menurutnya lagi, "penghuni" (baca: makhluk halus) hutan di Pulau Moyo tidak suka mengganggu.

 Gambar : Pulau Moyo 2

Bila berkunjung ke pulau ini, kita bisa melihat keindahan alam yang masih alami. Hutan yang indah dan nyaris tak tersentuh, air terjun dan sungai-sungai alami, serta keindahan bawah laut yang tiada habisnya. Selain hiking di hutan, menyusuri sungai dan air terjun, beberapa gua yang dapat dicapai dengan berjalan kaki, bisa menjadi alternatif kegiatan. Salah satunya adalah Gua Ai Manis yang harus dicapai dengan sedikit memanjat tebing. Gua ini tempat bersarangnya ratusan kelelawar. Selain itu, aktivitas lain yang bisa Anda lakukan adalah trekking selama dua jam yang bisa dimulai dari Labuan Haji, ke arah Air terjun Brang Rea (Sungai Besar) yang terletak di tengah pulau.

Gambar : Pulau Moyo 3

Pulau Moyo juga merupakan "surga" bagi pencinta burung. Dari 124 spesies burung yang terdapat di Sumbawa, 86 jenis di antaranya berada di pulau ini. Spesies burung langka juga bisa Anda temukan di sini. Diantaranya adalah Kakatua berkepala kuning serta burung Gosong. Burung yang terakhir, memang unik karena mengandalkan tanaman dan ranting untuk menghasilkan panas selama masa inkubasi telurnya.

Bila ingin snorkeling atau menyelam, kawasan sekitar pulau menawarkan berbagai keindahan bawah laut yang juga tak kalah menarik. Taman laut yang membentuk formasi karang lunak dan keras yang indah, bisa ditemukan pula sponge (spon) dan crustacea. Seorang wisatawan Belanda yang kebetulan baru saja selesai snorkeling, membagi pengalamannya. "Tadi saat snorkeling saya lihat hiu kecil berenang di sekitar pantai Ai Manis. Dan di sekitar tempat itu, pemandangan karangnya sungguh indah. Saya juga lihat belut,” ujar Karsten, wisatawan tersebut.
 Gambar : Pulau Moyo 4

Pulau Moyo juga menawarkan keindahan alam bawah laut. Hampir keseluruhan pulau dikelilingi karang yang masih dalam keadaan baik dan belum rusak. Hiu dengan panjang kurang lebih dua meter, anemon, pelagik, belut, groupers bahkan manta, semua ada. Bila Anda ingin diving, Anda bisa melakukannya di sekitar Pulau Medang, yang terletak di Barat Laut Pulau Moyo. Anda bisa menghubungi Laguna Biru Resort yang berada di pinggiran kota Sumbawa Besar. Kapal pesiar dari Bali, Lombok atau bahkan mancanegara sering melakukan persinggahan di pulau ini. Pcrjalanan biasanya menyinggahi Pulau Moyo dan Pulau Satonda, pulau mungil di sebelah timur laut Pulau Moyo yang memiliki danau air asin di tengah pulau.

Selain jauh dari jangkauan wisatawan domestik, promosi tentang pulau Moyo masih sangat sedikit. Untuk berlibur ke sini, dibutuhkan ketersediaan waktu dan dana yang cukup lumayan. Namun, bila ada keinginan untuk melihat sebagian kecil keindahan negeri ini, Pulau Moyo adalah salah satu tempat yang patut dikunjungi. "Kalau kebetulan sedang beruntung, Anda bisa melihat sekelompok ikan terbang," ujar Pak Lahi sambil menunjuk sekelompok ikan terbang yang sedang melompat dari dalam air ke atas permukaan.
Gambar : Pulau Moyo 5

 
Lombok Sumbawa Secret © 2011 | Sponsored by Lombok-sumbawa-ntb